Apresiasi FTBI, Pemkab Lutim Ingatkan Anak Tidak Lupa Identitas Budaya

oleh -184 Dilihat
oleh
Apresiasi FTBI, Pemkab Lutim Ingatkan Anak Tidak Lupa Identitas Budaya
Pemerintah Kecamatan Tomoni Timur, mengapresiasi pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kecamatan Tomoni Timur yang digelar di SDN 171 Purwosari, Senin (12/10/2026).

Luwu Timur, Kabartanaluwu.id – Pemerintah Kecamatan Tomoni Timur, mengapresiasi pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kecamatan Tomoni Timur yang digelar di SDN 171 Purwosari, Senin (12/10/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh siswa dari seluruh sekolah dasar negeri di wilayah Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Festival tersebut menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap kekayaan budaya lokal.

Sejumlah cabang lomba yang dipertandingkan meliputi pidato bahasa Toraja, mendongeng dalam bahasa Bugis, serta penulisan cerita pendek berbahasa Toraja.

Camat Tomoni Timur, Yulianus, menyampaikan, kegiatan FTBI memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah agar tetap dikenal, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurut Yulianus, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting di tengah perkembangan zaman, namun kemampuan tersebut hendaknya tidak membuat generasi muda melupakan bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya.

Baca Juga:  Lindungi Warisan Budaya dan Dorong Ekonomi Kreatif, Pemkab Lutim Sosialisasikan KIK

“Sebagai Camat, saya tentunya mengapresiasi kegiatan ini. Namun, saya ingin berpesan agar jangan sampai anak-anak kita bisa berbahasa Inggris, tetapi bahasa daerah atau bahasa ibu justru terlupakan,” kata Yulianus.

Yulianus berharap, kegiatan FTBI tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana menanamkan kebanggaan dan kecintaan siswa terhadap bahasa daerah sejak dini.

“Pelaksanaan FTBI memiliki sejumlah tujuan, antara lain melestarikan bahasa daerah agar tidak punah, menumbuhkan kebanggaan siswa terhadap bahasa ibu, serta memberikan ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas di bidang seni dan sastra lokal,” katanya.

Melalui kegiatan ini, kata Yulianus, siswa didorong untuk menggunakan bahasa daerah secara positif, baik dalam lingkungan pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.

“Keterlibatan sekolah dalam festival tersebut, juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya kepada generasi muda melalui kegiatan pembelajaran yang kreatif dan kompetitif,” ujarnya.

Yulianus juga berharap, sekolah, guru, dan keluarga dapat terus mengambil peran dalam mengenalkan serta membiasakan penggunaan bahasa daerah kepada anak-anak.

“Dengan demikian, generasi muda diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan bahasa asing tanpa kehilangan jati diri serta kedekatan dengan bahasa dan budaya daerahnya,” tutupnya. (*/)

No More Posts Available.

No more pages to load.