Keberhasilan TPIBS Tidak Cukup Diukur dari Jumlah Koleksi Buku

oleh -270 Dilihat
oleh
Keberhasilan TPIBS Tidak Cukup Diukur dari Jumlah Koleksi Buku
Camat Tomoni Timur, Yulianus, menyoroti pentingnya mengubah ukuran keberhasilan perpustakaan desa saat mengikuti Stakeholder Meeting: Menuju Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Kabupaten Luwu Timur, dengan tema "Literasi Berdaya, Masyarakat Maju dan Sejahtera".

Luwu Timur, Kabartanaluwu.id – Camat Tomoni Timur, Yulianus, menyoroti pentingnya mengubah ukuran keberhasilan perpustakaan desa saat mengikuti Stakeholder Meeting: Menuju Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Kabupaten Luwu Timur, dengan tema “Literasi Berdaya, Masyarakat Maju dan Sejahtera”.

Kegiatan tersebut berlangsung, Selasa (29/09/2026) di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Bupati Luwu Timur, Malili, dan dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Timur, H. Ramadhan Pirade.

Menurut Yulianus, keberhasilan TPBIS tidak cukup diukur dari jumlah koleksi buku atau banyaknya orang yang datang ke perpustakaan desa.

“Yang perlu kita ukur bukan hanya berapa banyak buku yang dimiliki, tetapi juga berapa orang yang menggunakan layanan, siapa saja yang menggunakannya, berapa kegiatan pemberdayaan yang dilakukan, dan berapa kelompok masyarakat yang terlibat,” kata Yulianus.

Yulianus menilai, dampak perpustakaan perlu dilihat dari keterampilan yang diperoleh masyarakat, kelompok usaha atau UMKM yang terbantu, perubahan pengetahuan dan keterampilan, hingga dampak sosial-ekonomi yang dihasilkan.

“Dengan ukuran tersebut, perpustakaan desa tidak berhenti sebagai tempat menyimpan dan membaca buku, tapi mampu menjadi ruang tempat masyarakat belajar, bertemu, mendapatkan informasi,” katanya.

“Bahkan dapat pula menjadi wadah mengembangkan keterampilan, membangun usaha dan menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi,” tambahnya.

Perpustakaan desa yang berhasil, kata dia, bukan semata-mata perpustakaan yang ramai dikunjungi tapi yang lebih penting adalah apakah perpustakaan mampu membuat masyarakat lebih berpengetahuan, lebih terampil, lebih produktif dan lebih berdaya.

Baca Juga:  Lomba Perpustakaan Desa 2026, DPK Lutim Dorong Peningkatan Kualitas Layanan

“Gagasan TPBIS pada akhirnya membawa perpustakaan keluar dari batas-batas fisiknya. Rak buku tetap penting. Ruang baca tetap dibutuhkan. Namun, nilai sebuah perpustakaan semakin besar ketika pengetahuan yang tersimpan di dalamnya bergerak keluar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Seorang petani. lanjut Yulianus, dapat menemukan pengetahuan baru untuk meningkatkan produktivitas, pelaku UMKM memperoleh informasi untuk mengembangkan usaha, anak-anak mendapatkan ruang belajar dan pemuda memperoleh akses pengetahuan dan keterampilan digital.

“Di titik itulah perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat membaca. Ia menjadi ruang perubahan. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial pun pada akhirnya bukan hanya tentang mengubah perpustakaan,” urainya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., M.Psi., Psikolog, mengajak peserta melihat perpustakaan dari perspektif yang lebih luas.

“Selama ini, perpustakaan sering kali identik dengan buku, rak dan ruang baca. Padahal, menurut perspektif TPBIS, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar masyarakat sekaligus pintu masuk untuk menjawab berbagai kebutuhan sosial dan ekonomi,” kata Prof. M Jufri.

Prof. Jufri menambahkan, perpustakaan tidak harus memiliki seluruh sumber daya untuk menjawab semua persoalan masyarakat tapi harus mampu menghubungkan semuanya.

“Dalam ekosistem tersebut, pemerintah daerah berperan melalui kebijakan, program dan dukungan anggaran. Organisasi perangkat daerah dapat mengintegrasikan program lintas sektor,” katanya. (*/)

No More Posts Available.

No more pages to load.