Modal Cinta, Cerita Antonius Lalong Dibalik Berdirinya Camp Muay Thai di Palopo

oleh -860 Dilihat
oleh
Modal Cinta, Cerita Antonius Lalong Dibalik Berdirinya Camp Muay Thai di Palopo

SORE itu Minggu 26 Oktober 2025 sekira pukul 16.00 wita, Antonius Lalong, membuka pintu kayu dari ruko tua miliknya yang menjadi markas Sawerigading Camp. Sebuah tempat para atlet bela diri modern berlatih.

“Biasanya hari Minggu kami libur, tetapi karena sejumlah event sudah semakin dekat, jadi latihan semakin diintensifkan,” kata Antonius Lalong membuka percakapan.

Mungkin belum banyak yang tahu, jika di Kota Palopo ada camp olahraga Muay Thai, yang awal munculnya di negeri Gajah Putih, Thailand, sebagai seni bela diri tradisional yang diperkirakan pertama kali diperkenalkan pada abad ke-16.

“Sejak muda saya suka dengan olahraga bela diri. Kecintaan saya inilah yang membuat saya membuka camp ini,” kata Antonius menceritakan latar belakang pendirian camp tersebut.

Antonius berkisah, Sawerigading Camp ini didirikan pada tahun 2023 bersama dua rekannya yakni, Harianto dan Fauzan. “Kedua kawan saya ini adalah prajurit TNI aktif,” katanya.

Antonius mengaku, mereka tidak menunggu bantuan datang, karena baginya, yang lebih kuat dari bantuan adalah keyakinan.

Antonius yang pernah menjadi pelatih daerah untuk cabang Muay Thai Palopo ini, tahu benar bahwa bakat-bakat muda di kotanya hanya butuh satu hal, yakni kesempatan.

Baca Juga:  Muathay Lutim Pastikan Lolos ke Porprov XVIII

“Itu pula yang menjadi landasan sehingga kami memutuskan untuk menciptakan kesempatan itu sendiri,” ujarnya.

Dengan dana pribadi, Antonius dan rekannya kemudian membeli peralatan latihan seadanya dan memulai dari nol.

Tak ada sponsor, tak ada sorotan media. Hanya semangat dan keyakinan bahwa dari Palopo pun, juara bisa lahir.

“Saya ingin melihat anak Palopo menjadi atlet nasional, bahkan internasional,” kata Antonius sambil menatap para atlet muda yang tengah berlatih dengan serius di camp itu.

Di tempat ini, kata Antonius, mulai muncul nama-nama yang kini dikenal di tingkat lokal, regional dan bahkan nasional seperti Ardiansyah (Ian) dan Rudi.

Mereka, lanjut Antonius, bukan hanya berlatih, tapi juga berjuang untuk menorehkan prestasi besar seperti, meriah emas di Kejurda Muay Thai di Makassar, dan bahkan Rudi melanjutkan langkah dengan meraih emas di Celebes Fight 2025.

Baru-baru ini, lanjut Antonius, tiga atletnya yang turun di kejuaraan Pra Porprov Boxing di Kota Parepare, semua menunjukkan prestasi positif.

”Revan meraih perak dan akan mewakili Tana Toraja pada Porprov mendatang. Untuk Miftahul Jannah Nur meraih perunggu dan bersama Reno serta Irahayu, juga lolos ke Porprov mewakili Kota Palopo,” sebutnya.

Setiap kali atlet binaannya naik podium, Antonius tak bisa menahan senyum haru.

“Melihat mereka juara, itu kebahagiaan yang tak bisa dibayar. Rasanya seperti melihat anak sendiri berhasil,” kisahnya.

Bagi Antonius, Muay Thai bukan sekadar olahraga. Ia adalah cara untuk membangun karakter, menanamkan semangat, dan membalas cinta pada daerah yang telah membesarkannya.

Baca Juga:  Santri dan Santriwati PMDS Palopo, Keluar Sebagai Juara Karate Kapolda Cup

“Saya pernah berlatih di Thailand. Muay Thai bukan hanya mengajarkan teknik, tapi juga nilai seperti disiplin, hormat, dan keberanian,” jelasnya.

Kini, Sawerigading Camp Palopo menaungi tiga cabang bela diri yakni, Muay Thai, Boxing, dan Kick-Boxing. Walau sebagian perlengkapan dan biaya operasional masih didanai pribadi, semangat di dalamnya tak pernah surut.

“Dukungan untuk olahraga Kick-Boxing sudah mulai ada dari KBI (Kick Boxing Indonesia) tapi perjuangan ini masih panjang,” katanya semangat.

Saat ini, urai Antonius, Sawerigading Camp juga memfasilitasi mereka yang ingin mengenal olah raga ini atau hanya untuk menjaga kebugaran dengan menjadi member tetap.

“Dari para member inilah, ada biaya sedikit untuk membantu operasional sehari-hari bagi kami di sini,” ucapnya.

“Tapi yang paling saya harapkan adalah agar atlet dan olahraga di Palopo lebih diperhatikan. Di sini banyak anak muda berbakat yang mampu bersaing dengan siapa pun di luar sana,” ujarnya lirih.

Akhirnya, di balik setiap tendangan dan pukulan di camp kecil di Jalan Veteran, No. 20 Kota Palopo ini, tersimpan kisah cinta yang besar.

Cinta seorang pelatih kepada daerahnya. Cinta yang tidak menuntut, hanya memberi. Cinta yang membentuk juara bukan hanya di gelanggang, tapi juga dalam kehidupan. (*/dj)

No More Posts Available.

No more pages to load.