in Memoriam Satu Dekade Onny Gappa, Pahlawan Hijau Indonesia

oleh -1948 Dilihat
oleh
in Memoriam Satu Dekade Onny Gappa, Pahlawan Hijau Indonesia
Andi ‘Onny’ Tenri Gappa saat berfoto di samping bibit tanaman Pohon Trembesi.

HARI ini, tanggal 10 Oktober 2024 genap sudah satu dekade atau 10 tahun kepergian sang pahlawan hijau Indonesia, Andi Tenri Gappa atau karib disapa Onny Gappa.

10 Oktober 2014 lalu, sahabat yang ramah, murah senyum dan sederhana ini, dipanggil sang Khalik di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, sekira pukul 22.24 waktu setempat, Jumat malam.

Pada saat itu, penulis sedang berada di salah satu rumah makan cepat saji di samping kantor DPRD Makassar di bilangan jalan Andi Pangerang Pettarani.

Sepekan sebelumnya, penulis dan almarhum masih sempat berkomunikasi tepatnya tanggal 02 Oktober 2014 melalui pesan Blackberry.

“Saya sudah operasi, tapi akan menjalani pemulihan dulu sebelum pulang ke Indonesia,” kurang lebih seperti itu pesan yang dikirimkan almarhum.

Takdir Allah Subhana wa Ta’ala telah digariskan. Sehari sebelum menghembuskan nafas terakhir, kondisi beliau kembali drop dan harus menjalani perawatan intensif.

Akhirnya, pesan berantai di grup BBM tersiar. Status-status ucapan duka dan foto Andi ‘Onny’ Gappa menghiasi platform media sosial.

Penulis yang mencoba mencari kebenaran informasi langsung menghubungi saudara sepupu almarhum, Andi Ahmar yang akrab disapa Abo Stanley.

“Belum saudara. Sekarang masih sementara dibimbing oleh Puang Hery (saudara sepupu almarhum lainnya, mantan Wali Kota Makassar). Mohon doa ta’ sodara,” kata Kak Abo di ujung telepon.

Tak selang berapa lama, ponsel penulis berdering. Kak Abo memanggil. “Innalillahi wa Innalillahi rajiun. Meninggal mi Puang Onny,” suara Kak Abo terbata.

Penulis tak kuasa menahan tangis. Kami berdua pun larut dalam kesedihan. Andi Onny telah berpulang ke Rahmatullah di tempat dirinya mendapat inspirasi untuk giat menanam pohon Trembesi, Singapura.

Tetiba, terlintas percakapan terakhir kalinya dengan almarhum saat penulis berkunjung ke Panin Bank sebelum almarhum berobat ke Singapura.

“Dam, InsyaAllah kalau saya sudah dioperasi ini (sembari menunjuk bagian perut sampingnya) kita tur ke Manado dengan Labolong (motor BMW hitam),” katanya.

Jasad beliau akhirnya dipulangkan ke Indonesia, dijemput langsung oleh pesawat pribadi Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, M. Jusuf Kalla.

Almarhum kemudian dikebumikan di pemakaman keluarga Andi Mattalata, di Kabupaten Barru, sesuai wasiat almarhum kepada sang istri, Andi Soraya Mattalatta.

Pohon Trembesi yang menjadi inspirasi Onny Gappa yang berada di Malaysia

Awal Menanam Pohon

Andi Onny memulai kecintaannya menanam pohon sekira tahun 1990. Saat itu, dia mulai menanam pohon Palem yang didapat dari saudaranya di Bandung.

Baca Juga:  Fenomena Pencabangan Ilmu, Antara Kemajuan dan Tantangan Nilai Spiritual

“Awal saya menanam pohon itu sekira tahun 1990. Saya mendapat kiriman bibit pohon Palem dari kakak saya di Bandung. Jumlahnya berkarung-karung,” kata Andi Onny saat diwawancara media kabarmakassar.com sekira Januari 2024.

Dari situ, keinginan untuk menanam pohon dengan jumlah lebih banyak semakin menggelora.

“Kenapa saya menanam pohon?, Saya paham sekali pundi-pundi kita di kehidupan nanti di kehidupan kedua yang tidak lagi ada kematian, itu yang harus diisi terus,” katanya.

Onny menjelaskan, Tuhan tidak akan mempertanyakan tabungan manusia di dunia, tapi kita akan ditanya tabungan di akherat kelak.

“Apa yang kita dapatkan di kehidupan kedua kita nantinya yang tidak ada lagi matinya, itu sangat bergantung pada tabungan kita di dunia,” jelasnya.

“Tabungan inilah yang ingin saya isi dengan menanam pohon, karena pohon itu banyak manfaatnya seperti, menghasilkan oksigen. Lalu oksigen itu dimanfaatkan oleh manusia untuk bernafas dan kehidupan-kehidupan lainnya, itu semua tabungan,” tambahnya.

Onny juga berpesan, jika manusia ingin berbuat baik jangka panjang dan pahalanya terus mengalir, maka tanamlah pohon. “Jika ingin berbuat baik jangka panjang, tanamlah pohon,” pesannya.

Menjatuhkan Pilihan Menanam Pohon Trembesi

Tahun 2003, Onny bekunjung ke dua negara tetangga Malaysia dan Singapura. Di sinilah titik awal sehingga Onny fokus menanam pohon Samanea Saman atau Trembesi sebagai tanaman pelindung.

“Saya sangat suka melihat Malaysia dan Singapura. Kotanya begitu asri. Apalagi Singapura, dia itu kota kecil. Tapi di tengah kotanya itu sangat asri,” kata Onny.

Di Malaysia inilah Onny terinspirasi untuk menanam pohon Trembesi karena melihat vegetasi hijau dominan di wilayah ini didominasi oleh pohon Trembesi.

“Di Malaysia itu ada sebuah kedai kopi. Di depannya itu ada pohon Trembesi yang sangat besar. Kata pemilik kedai, sejak dirinya masih kanak pohon itu sudah ada dan sudah besar. Diperkirakan pohon itu sudah berumur sekira 150 tahun,” kata Onny.

Tahun 2004, Onny memulai melakukan pembibitan Trembesi, di mana awalnya langsung membibit sekira 40 ribuan pohon.

“Sejak itu saya semakin bersemangat karena sangat mudah dibibitkan dan mudah tumbuh. Kita lihat di Kota Makassar sudah sangat banyak pohon trambesi yang kami tanam,” katanya.

Semakin lama, kata Onny, permintaan bibit semakin banyak. Sementara kemampuan produksi terbatas, akhirnya Andi Onny mencari mitra kerjasama dan Universitas Hasanuddinlah yang dituju.

“Saya ingin berbuat lebih besar lagi, tapi tangan saya hanya dua. Akhirnya saya mulai berpikir mencari mitra yang sepemikiran. Alhamdulillah, Rektor Unhas Prof. Idrus Paturusi saat itu, merespons positif. Akhirnya kita bekerjasama dengan Unhas dan terbentuklah, Unhas Green Community yang di launching langsung oleh Presiden Indonesia saat itu, Soesilo Bambang Yudhoyono,” ujarnya.

Baca Juga:  Mengenal Burung Alo, Maskot Pemilukada Kota Palopo 2024

Dari sini, ujar Onny, 50 ribuan bibit pohon trambesi dan asam akhirnya berhasil dikembangkan yang lokasinya berada di pinggir danau Unhas.

Saat bersama Presiden ke-6 Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono.

Ditunjuk Jadi Tim Budidaya Trembesi Kepresidenan RI

Setelah berhasil membibit pohon Trembesi dalam jumlah besar. Andi Onny juga kebanjiran permintaan bibit dari banyak pihak, salah satunya dari Komandan Brigif 3 Kostrad, Kolonel Inf. Doni Monardo.

“Saya kemudian berkenalan dengan Pak Doni Monardo. Oleh beliau, saya diajak untuk berbagi pengetahuan kepada prajurit Kostrad bagaimana pembibitan dan pemeliharaan pohon Trambesi,” ungkapnya.

Onny kemudian ke Markas Kostrad Brigif 3 di Kariango, Kabupaten Maros. “Alhamdulillah, pembibitan di Kostrad itu berjalan dengan sangat baik dan berhasil,” ujarnya.

Dari sini, Onny kemudian diajak oleh Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjend Dioko Susilo yang kemudian memerintahkan seluruh Korem di Sulawesi untuk mengembangkan tanaman pohon Trambesi ini.

“Akhirnya saya berkeliling ke sejumlah Korem untuk memberikan pembekalan. Di Bone, Parepare, Manado, Palu dan Kendari yang terakhir,” urainya.

Karena sudah semakin banyak permintaan yang tidak bisa lagi ditangani dengan dana pribadi bahkan sampai ke Kodam Tanjungpura dan Brawijaya, lanjut Onny, kemudian dirinya meminta bantuan pimpinan Panin Bank tempatnya bekerja untuk membantu pembiayaan.

“Alhamdulillah, pemilik Panin Bank Bapak Mu’min Ali Gunawan, merestui kegiatan ini dan mengalokasikan anggaran buat itu dan terbentuklah Panin Peduli sebagai sponsorship,” kata Onny.

Undangan dari sejumlah Kodam seperti Kodam Tanjungpura dan Brawijaya, terus berdatangan kepada Onny.

“Di Kodam Brawijaya kami menyalurkan bibit ke ke 33 Kodim yang berada di wilayah Jawa Timur,” kisahnya.

Oleh Doni Monardo yang saat itu dipercaya sebagai Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Onny kemudian diajak untuk menjadi anggota tim budidaya Trembesi Kepresidenan.

“Beliau memulai pembibitan Trambesi di istana dan mendapat respon positif dari Presiden SBY. Pak Doni akhirnya punya pembibitan sendiri di Cikeas,” katanya.

Dari hubungan itu, ujar Onny, Presiden SBY menginginkan seluruh provinsi di Indonesia untuk menanam pohon Trembesi yang bibitnya dibagikan gratis oleh Presiden.

“Fungsinya saya dan Panin Peduli di sini, menyuplai bantuan bibit, polybag dan bantuan teknis. Mudah-mudahan kegiatan ini lebih luas lagi dan bermanfaat bagi bangsa dan negara,” harapnya.

Baca Juga:  Tugu Jogja, Simbol Kejayaan dan Filosofi Kehidupan Kota Yogyakarta
Foto di dekat pohon Trembesi yang dipotong saat pelebaran Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar.

Tidak Akan Berhenti Menanam Sampai Mati

Andi Tenri Gappa mengaku tidak akan pernah berhenti untuk menanam pohon selama dirinya hidup.

“Ini (menanam pohon) tidak akan pernah berhenti. Sampai saya tidak punya lagi dana atau saya mati. Jadi selama saya masih punya nyawa, selama saya masih punya uang atau disokong oleh siapapun untuk membiayai kegiatan ini, saya tidak akan berhenti,” kata Andi Tenri Gappa.

Andi ‘Onny’ Tenri Gappa yang perilakunya sangat sederhana ini menambahkan, dirinya ini bukan siapa-siapa tetapi ingin berbuat banyak bagi manusia lainnya.

“Saya ini bukan siapa-siapa, tapi saya ingin berbuat banyak bagi manusia lain dalam kehidupan ini,” kata Onny yang merupakan keponakan langsung alm. Jendral Yusuf ini.

Onny mengenang, setiap dirinya melewati atau ke Bandara Sultan Hasanuddin, selalu ada rasa syukur melihat pohon Trembesi yang ditanamnya tumbuh dengan baik.

“Setiap saya melintasi bandara, selalu ada syukur dan bahkan rasa haru karena melihat pohon yang saya tanam tumbuh dengan subur,” ujarnya.

Alasan lain Onny menanam pohon Trembesi dikarenakan banyak manfaatnya dan umur pohon yang panjang.

“Kenapa saya memilih menanam pohon Trembesi? Karena umurnya panjang dan banyak manfaatnya bagi kehidupan,” jelasnya.

Onny menyampaikan, dirinya punya mimpi ingin melihat Indonesia seperti negara Singapura yang asri dengan banyak menanam pohon Trembesi.

“Pohon ini cepat tumbuh dan seperti payung, akar mampu menampung air dan menyuburkan tanah. Daunnya mampu menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen,” ungkap Onny.

Bagi Onny, tidak ada kata terlambat kepada siapapun untuk menanam pohon. “Saya selalu bilang ke diri sendiri, tidak ada kata terlambat untuk menanam pohon,” ucapnya.

Begitulah sosok Andi ‘Onny’ Tenri Gappa, sang ‘Pahlawan Hijau Indonesia’ sekaligus ‘Bapak Trembesi Indonesia’ yang sudah menyebarkan jutaan, bahkan puluhan hingga mungkin ratusan juta bibit pohon Trembesi untuk negeri tercintanya Indonesia.

Penulis selalu teringat dengan quote dari almarhum yang berbunyi; “Waktu yang terbaik menanam pohon adalah dua puluh tahun lalu, waktu terbaik kedua, adalah hari ini”

Selamat jalan Andi ‘Onny’ Tenri Gappa, semoga Allah menempatkan engkau di tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin allahumma aamiin. (*/)

Adam Djumadin
Palopo, 10 Oktober 2024